Huru-hara yang terkait penangkapan pegawai Kementrian Kelautan dan Perikanan Indonesia oleh Polis Diraja Malaysia diberitakan dengan sangat heboh oleh media massa. Saat Indonesia memperingati ulang tahunnya yang ke-65, Indonesia kembali harus berurusan dengan isu perbatasan dengan Malaysia. Untuk merespon hal ini, Andi Arsana, penggiat Border Studies menulis sebuah artikel imiah populer. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak mewakili institusi tempatnya belajar dan bekerja. Silakan simak tulisan tersebut di sini.
Tulisan ini tentu saja tidak mampu membahas semua aspek yang terkait dengan sengketa Indonesia Malaysia. Fokusnya adalah aspek geospasial dan hukum terkait kewilayahan dan kewenangan negara atas kawasan laut.
The 2009 will end shortly and this is a good time to look back a while, reviewing what have happened in the last one year. This article focuses on maritime issues in 2009, based on which Indonesia can prepare its ocean related policies/activities in the future.
Earlier this year Indonesia made a significant progress in its maritime boundary negotiation with Singapore by signing an agreement for a short segment of territorial sea boundary in the Singapore Strait. This is the second boundary agreement with Singapore after the first one signed in 1973. The agreement, which is also the second maritime boundary agreement in the twenty first century for Indonesia, was achieved after a five-year intensive negotiation. It was regarded as a reasonably short one considering that a boundary negotiation may take decades to finish. An earlier agreement with Vietnam in 2003, for example, was negotiated for about 25 years.
