Jambusari

CILACAP [Suara Merdeka] – Demonstrasi bisa digelar dengan sebab apa pun. Bahkan, alasan kejelasan batas desa juga bisa menjadi penyebab warga demonstrasi. Paling tidak itulah yang terjadi di Desa Jambusari, Kecamatan Jeruklegi. Sekitar 300 warga desa itu kemarin berdemonstrasi di Kantor Kecamatan Jeruklegi. Mereka mempermasalahkan batas desa yang dianggap berubah dibandingkan dengan sebelum tahun 1970-an.

Batas desa yang dahulu dipastikan dengan patokan Sungai Kaliminggir di perbatasan dua desa, yaitu Desa Jambusari-Desa Prapagan, kini berubah dengan menggunakan dasar data topografi dan foto satelit.

”Sejak dahulu batas desa berpatokan pada sungai yang disebut Kaliminggir. Namun sekarang berubah, karena patokannya bukan sungai lagi, melainkan pemetaan topografi dan foto satelit,” kata Udi Priyatno, demonstran yang ditunjuk sebagai koordinator aksi.

Akibat perubahan patokan batas desa tersebut, ada wilayah di sekitar Kaliminggir yang sebelumnya masuk Desa Jambusari, kini masuk Desa Prapagan. Dengan demikian, ada yang semula warga Jambusari, setelah tahun 1970-an menjadi warga Desa Prapagan akibat perubahan perbatasan itu.

”Kami tidak ingin menuntut lain. Kami hanya ingin minta wilayah yang sebelumnya masuk ke Jambusari kembali ke Jambusari,” kata Sutardjo, salah seorang demonstran.

Sutardjo mengatakan, sejak menjadi perangkat desa Jambusari sebelum tahun 1970-an, wilayah sekitar sungai masuk ke Desa Jambusari. Namun, seiring dengan perubahan patokan perbatasan dua desa tersebut, kini wilayah itu ada yang masuk ke Desa Prapagan.

Libatkan Banyak Pihak

Terkait dengan demonstrasi tersebut, Sekcam Jeruklegi, Bayu Prahara, menyatakan akan mengonsultasikannya ke Kabupaten. Sebab, dia yakin bahwa masalah perbatasan seperti itu tidak akan selesai, jika tidak mempertemukan banyak pihak, termasuk BPN, bagian agraria, bagian pemerintahan, dan pihak lain.

”Intinya, kami akan membawa masalah ini dalam pembicaraan yang lebih melibatkan banyak pihak,” kata Bayu.

Demonstrasi warga yang dimulai sekitar pukul 10.00 WIB itu tergolong tertib. Meski sedikit tegang, karena massa mendesak naik ke Pendapa Kecamatan Jeruklegi. Mereka tak sabar menunggu perwakilan untuk berdialog dengan Muspika Jeruklegi.

Setelah sekitar dua jam, para demonstran akhirnya pulang dengan ketidakpuasan akibat tidak ada penyelesaian saat itu. Sampai berita ini ditulis, belum ada pernyataan dari pihak Desa Prapagan. Apakah memang benar ada permasalahan perbatasan seperti itu atau tidak. (G21-66)

 

Leave a Reply